Mentari menyelinap di balik gunung. Kegelapan menyelimuti lembah Cingku Rongga. Orkestra jangkrik mulai memecahkan keheningan malam.
Kehidupan suku Gigi Tongos begitu malam menjelang begitu monoton.Setelah makan malam mereka suka ngobrol bersama di sekitar api unggun. Sebagian ada yang menari ada yang menyanyi. Setelah kelelahan mereka pun tidur......eit maksudnya makan malam lagi baru tidur di rumahnya masing-masing.
Angin malam berhembus membawa udara dingin melewati padang rumput dan menyapu perumahan suku Gigi Tongos. Dobo dan keluarga terlelap dan mengelana mengelana ke mimpinya masing-masing. Bau bunga sukun yang terbakar memenuhi ruangan, mengusir nyamuk-nyamuk yang kelaparan.Namun saat terbuai mimpi, tiba-tiba Dobo dan keluarganya dikejutkan oleh getaran yang mengguncang rumahnya.
"Yank... Ada gempa bumi!" Haibo membangunkan suaminya.
"Bukan yank! Itu segerombolan gajah yang sedang lewat, biarin aja lah. Mengganggu mereka sama saja bunuh diri."
Ketika gerombolan gajah sudah berlalu, mereka pun melanjutkan tidurnya.
Ayam berkokok, sinar mentari mengusir kabut dingin yang menyelimuti lembah Cingku Rongga. Sebagian suku Gigi Tongos mulai melakukan aktivitasnya, sebagian lagi masih terlelap, yang disebut belakangan jumlahnya lebih banyak.
"Yankkkkk!!!!!!" Dobo terbangun oleh teriakan istrinya."Ada apa sih yank? Masih pagi nih." Dobo enggan beranjak dari tempat tidurnya yang empuk. Terbuat dari jerami yang dibungkus dengan kulit domba.
"Banyak kotoran gajah di halaman!"
Waduh jangan-jangan gerabahku yang kujemur di halaman juga diinjak gajah, pikir Dobo. Ia pun meloncat dari tempat tidurnya dan bergegas menuju halaman rumah.
Betapa terkejutnya Dobo melihat sebagian gerabahnya hancur diinjak gajah. Kotoran gajah berceceran di halaman rumah menimbulkan bau yang menusuk hidung.
Dengan terpaksa Dobo pun membuang kotoran itu agar ia dan keluarganya tak tersiksa dengan bau tak sedap itu.Dobo membuang kotoran gajah itu di bawah pohon manggis yang terletak agak jauh dari rumahnya. "Kubuang di sini aja ah, kurasa tempat ini lumayan jauh dari rumah, jadi baunya nggak akan mengganggu"
Hari demi hari berlalu, tak banyak hal penting terjadi di lembah Cingku Rongga. Suku Gigi Tongos melakukan aktivitas seperti yang sudah-sudah. Makan, tidur dan berburu.
Bagi mereka melakukan hal baru merupakan awal dari malapetaka.
Siang itu matahari terasa begitu menyengat. Dobo membalik-balikkan gerabah yang dijemurnya agar keringnya lebih merata.
"Dengan panas segila ini, besok gerabahku sudah pasti siap untuk dibakar" kata Dobo sambil mengusap keringatnya.
"Makaaaaan!!!!" Dobo mendengar teriakan anaknya. Dobo pun menoleh ke belakang, ia melihat Dongbo sedang makan buah manggis yang sangat ranum.
"Dongbo kamu dapat buah manggis dari mana?"
Lalu Dongbo mengarahkan jarinya ke sebuah pohon manggis yang terletak agak jauh dari rumahnya. Dobo menghampiri pohon manggis itu.
"Astaga pohon ini berbuah lebat, padahal dulu buahnya jarang-jarang. Dan buahnya kini lebih besar daripada yang dulu."
Dobo juga melihat kalau rumput di sekitar pohon itu menjadi lebih subur dan hijau. "Hmmmm.... Sepertinya ini akibat dari kotoran gajah yang kubuang disini. Pasti kotoran itu yang membuat tanah disini jadi lebih subur." Otak Dobo berputar.
Dengan membawa keranjang rotan. Dobo pergi ke padang rumput. Di sana dia mengumpulkan kotoran gajah untuk dibawa pulang.
"Hei Dobo, kamu sudah gila ya!"
Dobo menoleh ke arah datangnya suara. Ia melihat Werdo dan Grakji sedang tertawa terpingkal-pingkal. Dobo tengsin bukan main. Waduh sepertinya dalam seminggu ini aku akan jadi bahan tertawaan nih, pikir Dobo.
Tapi biarin aja deh, sudah terlanjur. Aku akan tetap menjalankan rencanaku.
Dobo membawa kotoran gajah ke ladangnya yang terletak di belakang rumah.Ia lalu menaburkannya ke tanaman jagung miliknya yang kurang subur.Sepanjang hari Haibo mengeluhkan bau badan suaminya yang menyengat hidung.
Hari demi hari berlalu, tak banyak hal penting terjadi di lembah Cingku Rongga. Suku Gigi Tongos melakukan aktivitas seperti yang sudah-sudah. Makan, tidur dan berburu.
Bagi mereka melakukan hal baru merupakan awal dari malapetaka.
Seluruh suku Gigi Tongos heran melihat ladang jagung Dobo yang tumbuh subur.
Bertongkol-tongkol jagung terlihat montok siap untuk dipetik. Mereka akhirnya sadar kalau kotoran gajah dapat menyuburkan tanaman.
Werdo menghampiri Dobo yang sedang panen jagung.
"Hai Dobo, maaf ya kemarin mentertawakanmu, ternyata idemu keren sekali."
"Nggak apa-apa Werdo, aku nggak marah kok."
"Oya aku juga ingin meniru idemu agar kebun singkongku tumbuh subur."
"Bagus! Aku sangat mendukungmu."
Selesai.
Malam itu Dobo mendengar lagi segerombolan gajah lewat depan rumahnya.
"Yank,... Gerombolan gajah lewat lagi" kata Haibo.
" Bagus deh, jadi aku nggak perlu ke padang rumput buat cari kotoran gajah."
Tapi ketika bangun pagi Dobo heran.Astaga kenapa halaman rumahku tak ada kotoran gajah sedikit pun, tapi baunya masih tersisa.
"Hai Dobo!" Dobo melihat Werdo menghampirinya.
"Tadi pagi aku melihat halaman rumahmu kotor sekali, jadi aku membantu membersihkannya. Baik hati kan aku he he."
"Grrr.... Jadi kamu yang mengambil kotoran gajahku." Dobo melotot.
Werdo jadi serba salah.
Tampilkan postingan dengan label cerita dobo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita dobo. Tampilkan semua postingan
Rabu, 05 Februari 2014
Minggu, 26 Januari 2014
MAHKOTA PLAKSOM
Apalah artinya pemimpin tanpa mahkota. Kepala suku Gigi Tongos, Plaksom Yang Agung pun demikian. Ia mempunyai mahkota yang sangat dibanggakan.
Mahkota itu terbuat dari dedaunan yang dirangkai untuk menghias kepalanya.
Sayangnya karena terbuat dari dedaunan. Mahkota Plaksom hanya bisa bertahan selama dua hari karena daunnya layu. Setelah itu dia menggantinya dengan mahkota baru.
Beruntung dia mempunyai asisten yang sangat setia bernama si Kunte.
Setiap dua hari sekali Kunte merangkai mahkota untuk dipersembahkan kepada sang kepala suku.
Suatu saat Kunte terserang Demam, ia tak mampu untuk membuat mahkota karena kondisi badannya terlalu lemah.
Ploksam kebingungan, tanpa mahkota ia merasa tak berarti.
Ia pun menyuruh si Werdo untuk membuat mahkota. Tapi mahkota buatan Werdo terlalu aneh sehingga ia menjadi bahan tertawaan anggota sukunya.
Lalu ia menyuruh Onblo untuk membuat mahkota. Mahkota buatan Onblo terlihat begitu indah dan membuat banyak orang terkesima.
Ploksam tak sabar untuk memakainya. Tapi begitu ia memakainya, Ploksam merasa kepalanya gatal-gatal. Ternyata daun yang digunakan onblo memang bisa membuat kulit jadi gatal.
Akhirnya Dobo pun turun tangan. Ia pun menawarkan diri untuk membuat mahkota untuk Plaksom. Plaksom pun menyetujuinya.
Dobo pun membuat sebuah mahkota dari pahatan kayu. Ia pun menempelkan bebatuan indah di mahkota itu.Kemudian Dobo mempersembahkan mahkota itu kepada kepala sukunya.
Alangkah bahagianya ia memakai mahkota itu. Ia merasa berwibawa dan bangga di depan rakyat sukunya. Karena terbuat dari kayu, mahkota itu jadi lebih awet dan Plaksom tak perlu sering ganti mahkota lagi. Kini sang kepala suku tak membutuhkan jasa Kunte lagi. Plaksom pun memecat Kunte.
Kunte pun sedih, Walau Plaksom terkenal pelit dan upah untuk membuat mahkota tak seberapa, tapi pekerjaan itu memberi kebanggaan baginya.
Hari demi hari berlalu, Plaksom merasa ada yang aneh. Kepalanya sering migren.
Akhirnya Plaksom menyadari kalau mahkota dari kayu terlalu berat untuk kepalanya.
Plaksom pun meminta Dobo untuk membuat mahkota yang lebih ringan.
Tapi Dobo tak menyanggupinya, "Maaf kepala suku, saat ini teknologi mesin bubut belum ditemukan, jadi lebih baik memakai mahkota dari daun saja."
Apa boleh buat, daripada kepala nyut-nyutan terus. Akhirnya Plaksom meminta Kunte untuk membuatkannya mahkota dari daun lagi.Kunte pun menyanggupinya.
Kini Plaksom yang agung pun kembali seperti dulu. Setiap hari memakai mahkota buatan Kunte. Ia pun bangga memakainya.
SELESAI
Epilog.
Suatu saat Dobo bertanya kepada Kunte, "Apa kamu nggak bosan setiap hari membuat mahkota buat kepala suku, kabarnya upah yang diberikannya tak seberapa, ia kan pelit?"
Dengan tenang Kunte menjawab, "Aku melakukannya karena aku menyukainya,... Lagipula ini kan jaman purba jadi belum banyak hal yang harus dilakukan,...he he"
Dobo sadar, memang mahkota dari daun sangat tidak efisien dan boros waktu untuk membuatnya, tapi bukankah pada jaman itu persediaan waktu sangat melimpah.
Rabu, 22 Januari 2014
Pengenalan DOBO
Bulan depan Dobo akan muncul seminggu sekali di cendanabooks.com
Bagi yang belum kenal Dobo, berikut ini adalah kisah sekilas tentang Dobo
DOBO; Si Manusia Purba
Beratus ribu tahun yang lalu,
seiring berakhirnya era kadal raksasa dan dimulainya peradaban kaum
neanderthal.
Di lembah Cingku Rongga yang
subur dengan padang rumputnya yang hijau dan sebatang sungai yang jernih.
Bermukimlah sekelompok manusia yang menjalin kehidupan bersama untuk bertahan
hidup. Mereka menamakan dirinya suku Gigi Tongos. Dipimpin oleh kepala suku Plaksom
Yang Agung. Mereka hidup damai. Yang mereka pikirkan hanyalah makan, tidur
dan berburu.
![]() |
| Plaksom Yang Agung |
Dobo mempunyai istri bernama Haibo dan seorang anak bernama Dongbo.
Sayang Dongbo mengalami gangguan bicara, walau sudah berumur tiga tahun namun ia hanya mampu mengucap satu kata, "makaaannn!...."
![]() |
| Dobo-Haibo-Dongbo-Onblo |
![]() |
| Asbu Jamke, Singa penguasa lembah Cingku Rongga |
Penasaran dengan kisah Dobo? Tunggu bulan depan ya!
Langganan:
Postingan (Atom)





