Jumat, 15 Mei 2015

Apa kata mereka tentang komik "Dek Jaman Biyen"







Kalau yang ini nggak perlu komentar lagi dehhh...

Bagi anda yang ingin juga mengenang masa lalu buruan beli komiknya :)

Senin, 27 April 2015

Komik "Dek Jaman Biyen"


Klik untuk memperbesar

Apa yang ada dalam pikiran anak sekarang bila ditanya tentang pletokan atau plembungan? Mungkin mereka akan mengira itu sejenis buah-buahan atau mungkin nama makanan.
Wajar bila generasi sekarang nggak tahu pletokan ataupun plembungan, karena itu adalah mainan yang ngetrend pada tahun 80an.

Komik "Dek Jaman Biyen" berusaha mengulas tentang kehidupan anak-anak desa di tahun 1980an. Terutama tentang berbagai permainan dan jajanan yang terkenal pada masa itu. Yang perlahan tapi pasti mulai menghilang dari peradaban.
Bila jaman dulu anak-anak bermain secara riil, sekarang anak-anak bermain tembak-tembakan atau main masak-masakan secara virtual di layar tablet.
Teknologi membuat manusia malas bergerak, hal itu sebenarnya kurang baik untuk perkembangan anak.

Komik Dek Jaman Biyen berusaha mengingatkan kembali bagi generasi 80an bahwa sebenarnya kehidupan anak-anak jaman dulu lebih menyenangkan daripada kehidupan anak anak jaman sekarang.
Bila dulu anda suka main pletokan, meniup balon plembungan, baca komik silat, melempar gambar umbul, makan "anak mamee" berarti anda wajib baca komik ini.
Sekedar untuk bernostalgia atau mungkin untuk mengenalkan kehidupan masa lalu pada sang anak.

Sayangnya komik ini tak tersedia di toko buku kesayangan anda. Karena ini komik indie yang pemasarannya terbatas. 


Ukuran Komik      : 19 X 27 cm bookpaper
Jumlah halaman  : 32 halaman
Harga                   : Rp. 30.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
Dicetak terbatas

Tidak tersedia di toko buku kesayangan anda

Cara Pemesanan: 

Konfirmasi dulu ongkos kirimnya 
atau bisa langsung cek di http://www.posindonesia.co.id/index.php/loginall-comuser-views/tarif-kiriman/kiriman-pos-domestik dengan daerah pengiriman Jakarta Barat dan berat sekitar 130 gr


Transfer ke rekening BCA No rek 5860711313
A/n Wahyu Hidayat 

Kirim bukti transfer lewat 
Whatsapp : 08561256466
BBM         : 79C51040
Untuk mempermudah pengecekan.
Jangan lupa sertakan alamat lengkap beserta nomor teleponnya.

Langsung deh komik dikirim


Kamis, 13 November 2014

Selasa, 23 September 2014

DOBO: Mangga Bekas Kalong

klik untuk memperbesar


Kisah ini merupakan pengalaman waktu kecilku di kampung.


Saat itu di rumahku yang berhalaman luas banyak tumbuh pohon mangga. 
Ada beberapa jenis mangga, tapi yang kuingat hanya mangga kweni dan mangga sengir.
Mangga kweni kulitnya agak tebal, seratnya agak tebal dan berbau wangi yang menyengat hidung.
Mangga sengir untuk saat ini sudah jarang ditemukan. Padahal mangga ini menurut aku merupakan mangga yang paling uenak di dunia. Tekstur dan manisnya sangat pas, enaknya susah dilukiskan dengan kata-kata, harus dengan gigitan di mulut.



Ketika malam menjelang. Saat hendak terlelap dalam mimpi. 
Sayup-sayup aku mendengar suara "bug!". Suara ini nggak keras, namun aku bisa mendengarnya. Mungkin aku punya pendengaran ultrasonic he he.
Dari intonasi suara yang kudengar aku yakin suara itu mangga yang jatuh akibat dari gigitan kalong.
Biasanya kalau mendengar suara itu, bila belum terlalu malam aku langsung mengambil senter dan keluar rumah untuk mencari mangga itu.
Namun bila terlalu malam, aku biarkan saja. Nanti aku cari besok pagi saja dan berharap mangga itu tak diketemukan oleh orang yang lagi ngeronda.



Pagi buta, setelah ayam berkokok. Aku beranjak dari tempat tidur untuk mencari mangga bekas kalong. Biasanya di bawah satu pohon mangga kita bisa menemukan dua atau tiga mangga yang tergeletak di tanah. Namun berhubung statusnya sebagai barang sisa, ada mangga yang digigit kalong cuma sedikit ada juga yang disisain cuma sedikit.
Yang kuambil tentu saja yang buahnya masih banyak.
Aku mencari mangga nggak cuma di halaman rumah, tapi juga di kebon tetangga.
Mungkin ini bisa dianggap mencuri, tapi di kampungku bila ada mangga yang tergeletak di tanah maka hukumnya " yang menemukan adalah yang memiliki" he he.



Mangga yang kutemukan kemudian aku simpan di dapur. Nanti siang sehabis pulang sekolah aku makan. Tentu saja bekas gigitan sang kalong dibuang terlebih dahulu.
Mungkin ini kedengarannya jorok, nggak higienis dan mengundang penyakit. Tapi percayalah rasanya dasyat banget.
Hal ini karena indra penciuman kalong sangat tajam, sehingga ia bisa menemukan mangga dengan tingkat kematangan yang sempurna.



Bandingkan dengan mangga yang biasa kita konsumsi saat ini. Mangga itu dipetik saat mangga belum terlalu matang. Kemudian dimatangkan dengan paksa dengan karbit. Jadi rasanya tentu saja tidak spektakuler.


Saat ini karena pengaruh teknologi, menanam pohon mangga tak memerlukan waktu yang lama untuk menunggu pohon itu berbuah. Berbeda dengan jaman dahulu yang harus menunggu bertahun-tahun sampai pohon yang kita tanam berbuah.
Hal ini juga mempengaruhi rasa. Walau matang di pohon, rasa mangga jaman sekarang nggak dasyat lagi.